Loading..

Dashboard Perumahan

Dalam rangka mendukung kebijakan pembangunan perumahan yang lebih tepat sasaran dan berbasis data, dashboard perumahan ini dikembangkan sebagai alat bantu visualisasi dan analisis kondisi kebutuhan rumah di Indonesia.
Visualisasi Dashboard ini diharapkan menjadi instrumen strategis dalam menjawab permasalahan backlog perumahan mencerminkan jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah layak huni baik dari aspek kepemilikan maupun kualitas hunian melalui :

  • Memetakan sebaran backlog secara geografis antar wilayah
  • Mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi pembangunan dan rehabilitasi perumahan
  • Mendukung perencanaan program seperti FLPP dan bantuan perbaikan rumah
  • Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi data di lingkungan Kementerian dan pemangku kepentingan lainnya

Image

DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional) Versi 4
Backlog perumahan merupakan tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam menyediakan hunian layak bagi seluruh rakyat. Istilah ini merujuk pada jumlah keluarga yang belum memiliki rumah sendiri (backlog 1) atau tinggal di hunian yang tidak memenuhi standar kelayakan (backlog 2).

Persentase Backlog Per Provinsi
No. Provinsi Jumlah Keluarga Backlog Kepemilikan Backlog RTLH Total
Backlog Perumahan
1 GORONTALO 409.770 17,32% 37,59% 54,91%
2 JAWA BARAT 17.728.093 15,87% 38,73% 54,60%
3 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 511.928 10,30% 41,70% 52,00%
4 ACEH 1.703.264 14,21% 36,37% 50,58%
5 SUMATERA BARAT 1.824.613 21,39% 28,89% 50,28%
6 BANTEN 4.194.512 13,43% 36,54% 49,97%
7 NUSA TENGGARA TIMUR 1.653.772 6,50% 43,47% 49,97%
8 JAWA TIMUR 14.717.599 13,15% 33,29% 46,45%
9 KEPULAUAN RIAU 769.055 15,85% 30,52% 46,37%
10 JAWA TENGAH 13.079.752 14,40% 31,19% 45,58%
11 PAPUA SELATAN 174.991 13,79% 31,38% 45,17%
12 KALIMANTAN SELATAN 1.469.206 12,83% 32,01% 44,84%
13 SULAWESI BARAT 449.574 9,25% 35,24% 44,49%
14 SULAWESI TENGAH 1.080.342 9,80% 34,56% 44,36%
15 NUSA TENGGARA BARAT 1.927.833 8,96% 34,91% 43,87%
16 KALIMANTAN TENGAH 937.609 10,35% 33,12% 43,47%
17 KALIMANTAN TIMUR 1.374.026 15,85% 27,22% 43,07%
18 RIAU 2.148.501 14,54% 28,53% 43,06%
19 SUMATERA UTARA 4.802.996 17,50% 24,47% 41,96%
20 DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA 3.555.083 28,77% 12,39% 41,16%
21 BENGKULU 685.253 9,05% 32,02% 41,07%
22 SULAWESI UTARA 937.353 15,51% 25,49% 40,99%
23 LAMPUNG 2.980.540 9,75% 31,03% 40,78%
24 SULAWESI SELATAN 3.111.558 13,82% 26,52% 40,34%
25 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 1.313.737 15,67% 23,60% 39,28%
26 KALIMANTAN UTARA 252.730 12,68% 26,58% 39,26%
27 SULAWESI TENGGARA 890.170 9,83% 29,06% 38,89%
28 JAMBI 1.225.116 10,54% 28,10% 38,64%
29 SUMATERA SELATAN 2.866.422 12,11% 26,45% 38,56%
30 BALI 1.272.649 11,18% 26,52% 37,70%
31 KALIMANTAN BARAT 1.786.555 8,43% 28,92% 37,35%
32 MALUKU 608.903 10,22% 24,70% 34,92%
33 PAPUA BARAT 183.676 9,86% 23,85% 33,72%
34 PAPUA BARAT DAYA 209.063 8,91% 24,39% 33,30%
35 PAPUA TENGAH 428.576 4,24% 27,64% 31,88%
36 PAPUA 354.338 9,00% 22,62% 31,62%
37 MALUKU UTARA 430.462 7,46% 22,23% 29,69%
38 PAPUA PEGUNUNGAN 447.967 5,60% 24,05% 29,65%

FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan)
Dalam upaya mengatasi tingginya angka backlog kepemilikan rumah (backlog 1), Pemerintah Indonesia melalui BP Tapera menginisiasi Program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) sebagai skema pembiayaan yang terjangkau, berkelanjutan, dan berpihak kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Program FLPP bertujuan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk:

  • Memiliki rumah pertama
  • Mengakses kredit pemilikan rumah (KPR) dengan bunga tetap dan rendah
  • Mendapatkan tenor panjang hingga 20 tahun

10 Provinsi terbesar
No. Provinsi Jumlah Unit
1 JAWA BARAT 294.444
2 JAWA TENGAH 78.089
3 SULAWESI SELATAN 77.933
4 BANTEN 76.390
5 JAWA TIMUR 71.808
6 SUMATERA SELATAN 67.049
7 SUMATERA UTARA 53.257
8 KALIMANTAN SELATAN 44.108
9 RIAU 36.711
10 KALIMANTAN BARAT 34.107
10 BANK Penyalur terbesar
No. Bank Jumlah Unit
1 BANK BTN 593.071
2 BTN SYARIAH 176.222
3 BANK BRI 100.535
4 BANK BNI 76.914
5 BPD JAWA BARAT DAN BANTEN 30.752
6 BANK MANDIRI 24.243
7 BANK SYARIAH INDONESIA 17.964
8 BJB SYARIAH 10.874
9 BPD SUMSEL BABEL 10.551
10 BANK SUMSEL BABEL SYARIAH 5.803
Berdasarkan Kelompok Pekerjaan
No. Uraian Jumlah Unit
1 SWASTA 889.349
2 WIRASWASTA 102.176
3 PNS 58.588
4 LAINNYA 35.644
5 TNI/POLRI 25.023

BSPS
Backlog 2 mencerminkan jumlah rumah tangga yang tinggal di hunian tidak layak, baik dari segi struktur bangunan, sanitasi, maupun kepadatan. Untuk menjawab tantangan ini, Pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menjalankan Program BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) sebagai bagian dari solusi strategis untuk peningkatan kualitas rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Program BSPS memberikan bantuan dalam bentuk:

  • Dana stimulan untuk membeli material bangunan
  • Pendampingan teknis untuk perbaikan rumah
  • Dorongan partisipasi swadaya masyarakat dan gotong royong

PBG
Pengurangan backlog perumahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat. Salah satu bentuk kontribusi masyarakat yang strategis adalah melalui keterlibatan dalam pengurusan dan kepatuhan terhadap Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
PBG adalah perizinan yang menggantikan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), yang bertujuan:

  • Menjamin bahwa bangunan dibangun sesuai standar teknis dan keselamatan
  • Memastikan hunian layak huni, aman, dan sehat
  • Mendorong pembangunan rumah berkualitas dan legalitas yang jelas



Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman © 2025